Presiden Soekarno memeriksa pasukan Cakrabirawa.

BEKASI - Cakrabirawa sering disebut-sebut di setiap peringatan G30S/PKI. Pasalnya pasukan pelindung Presiden ini merupakan eksekutor yang tega menghabisi nyawa enam Jendral TNI pada masa G30S/PKI.

Berikut kami ulas sejarah singkat Cakrabirawa:

Cakrabirawa merupakan pasukan pengamanan Presiden dan Wakil Presiden pada jaman orde lama. Cakrabirawa diresmikan Presiden Soekarno di Wina, Astria pada 6 Juli 1963.

Pembentukan Cakrabirawa merupakan usul dari Menkohankam/KASAN Jendral A.H Nasution atas terjadinya penyerangan terhadap Presiden Soekarno pada masa itu.

Sejarah mencatat telah terjadi beberapa kali percobaan penyerangan terhadap Presiden Soekarno yang berhasil digagalkan, antara lain: peristiwa perebutan kekuasaan pada 3 Juli 1946, peristiwa granat Cikini pada 30 November 1957, peristiwa MIG-15 Maukar pada 9 Maret 1960, peristiwa pelemparan granat di Jalan Cendrawasih pada 7 Januari 1962 dan terakhir peristiwa penembakan pada saat Idul Adha di Halaman Istana Merdeka Jakarta pada 14 Mei 1962.

Setelah terjadinya percobaan pembunuhan Soekarno pada saat sholat Idul Adha 14 Mei 1962, Letkol CMP Sabur menghadap Presiden untuk memberi perencanaan pembentukan pasukan pengawal istana.

Letkol CMP Sabur meminta 4 angkatan (AD, AU, AL dan Kepolisian) memberikan prajurit terbaiknya untuk bertugas mengawal Presiden.

Tepat pada hari ulang tahunnya 6 Juni 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan No 211/Pit/1962 tentang pembentukan resimen khusus yang bertugas menjaga keselamatan Presiden dan keluarganya.

Pasukan ini diberi nama Tjakrabirawa (Cakrabirawa) yang dalam pertunjukan wayang kulit merupakan senjata ampuh milik Batara Kresna dalam menumpas kejahatan.

Semboyan dari Pasukan Cakrabirawa yaitu, “Dirga Satyawira” yang artinya Prajurit Setia Berumur Panjang.

Cakrabirawa kemudian di resmikan Presiden Soekarno satu tahun kemudian pada 6 Juli 1963 di Wina, Austria. Dengan upacara sederhana, Presiden Soekarno menyerahakan tongkat komando dan baret merah tua kepada Letkol CMP Sabur.

Nama baik pasukan Cakrabirawa tercoreng karena Kompi Lettu Dul Arif yang masuk dalam Batalion pimpinan Letkol Untung, melakukan penculikan dan menghabisi nyawa 6 Jendral dari 7 target pada masa G30S/PKI.

Kejadian ini melibatkan 60 orang pasukan Cakrabirawa atau sekitar 2 persen dari total pasukan.

Setelah 3 tahun bertugas, peran Cakrabirawa sebagai Resimen Khusus yang bertanggungjawab menjaga keselamatan Presiden beserta keluarganya akhirnya dibubarkan pada 28 Maret 1966 setelah dikeluarkannya Surat Perintah II Maret 1966 atau Supersemar.

Tanggungjawab pengamanan presiden kemudian diserahkan ke Polisi Militer Angkatan Darat (Pomad). Pada masa Presiden Soeharto Satgas Pomad diganti dengan Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) yang sampai saat ini masih bertugas menjaga Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya.

Berita Terkait

Terbaru

Berlangganan